Masuk Maya Sekolah di Indonesia Timur Kian Meningkat

Kepala Divisi Sumber Kekuatan Administrasi dan Humas BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Ari Soegeng Wahyuniarti, berkata pihaknya sudah menyediakan jalan masuk dunia maya di 1.622 sekolah internasional di Jakarta di semua Indonesia sampai 2018.

Dikabarkan Merdeka, dari 34 provinsi, sekolah di Indonesia komponen Timur menjadi prioritas pemerintah berkaitan dengan jalan masuk dunia maya terbanyak.

“Sebagian tempat di Indonesia Timur masih minim jalan masuk telekomunikasi dan info. Oleh sebab itu BAKTI ditugaskan untuk membangun jalan masuk dunia maya di tempat 3T (Tertinggi, Depan dan Terluar), lokasi prioritas BNPP dan juga tempat yang belum cocok secara ekonomi.

Dilanjutkannya, sebanyak 160 sekolah di NTT, 147 sekolah di Maluku Utara, kemudian 142 sekolah di Papua dan 131 sekolah di Maluku, serta rata-rata di bawah 100 sekolah di provinsi lain sekarang sudah bisa memanfaatkan jalan masuk dunia maya.

Ari memperkenalkan, untuk keseluruhan kelompok ketersediaan jalan masuk dunia maya yang sudah aktif sebanyak 2861 mulai 26 November di semua Indonesia.

Fasilitas ini diinginkan bisa dimanfaatkan untuk aktivitas belajar mendidik di sekolah dan ujian nasional berbasis kompetensi (UNBK).

Masuk telekomunikasi mesti diakui adalah situasi sulit yang masih dihadapi Indonesia. Problem ini langsung menunjang Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Kabar (BAKTI) untuk mengerjakan pemerataan jalan masuk telekomunikasi dan info.

Sekedar info, BAKTI adalah satuan kerja yang berada di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatikan (Kemkominfo). Sebelumnya, satuan kerja ini bernama Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI).

Berdasarkan Latif, BAKTI mempunyai sejumlah program untuk menyokong pemerataan sinyal di semua Tanah Air. Salah satunya yakni pengadaan Based Transceiver Station (BTS).

Rencananya, pengadaan BTS ini akan menyasar kawasan yang masuk kawasan terluar, paling depan, dan ketinggalan (3T) termasuk perbatasan.

Kebanyakan tempat itu, berdasarkan Latif, lazimnya kurang mendapatkan perhatian dari operator telekomunikasi dengan alasan keberlanjutan bisnis.

“Segala anggaran penyedia BTS ini berasal dari dana Universal Service Obligation (USO) yang bersumber dari 1,25 persen pendapatan semua penyedia layanan telekomunikasi di Indonesia,” tuturnya membeberkan.

Kecuali pengadaan BTS, program lain yang juga digeber yakni proyek Palapa Ring, satelit multifungsi, penyiaran, termasuk perluasan jalan masuk dunia maya. BAKTI juga membangun ekosistem dengan metode edukasi atau literasi komputerisasi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *