Jokowi: Sampai Kapanpun, Guru Tidak Akan Dapat Terganti oleh Teknologi

sinarmas world academy

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyuarakan kemajuan teknologi ketika ini tidak dapat menggantikan peran guru. Guru tak dapat digantikan dengan mesin. Oleh sebab itu, guru wajib dapat membangun khayalan dan kreativitas buah hati-buah hati Indonesia.

Hal hal yang demikian disampaikannya dalam ceramah pada peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-73 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/12) lalu.

Pemerintah, lanjutnya, berjanji menuntaskan kekurangan guru di tempat. Pemerintah akan mengerjakan perekrutan guru secara berjenjang dan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kecakapan APBN.

“Ada 112. 000 guru yang kita rekrut tahun ini. Kita juga telah menerbitkan PP Nomor 49 Tahun 2018 perihal Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Melainkan banyak yang belum dapat jawab di sini. Pekan depan akan aku undang ketua awam PGRI dan perwakilan guru untuk membahas mengenai guru,” katanya.

Baca Juga: sekolah di BSD

Pada kans itu, Jokowi menyuarakan pemerintah juga akan menggeser pembangunan infrastruktur menjadi pembangunan sumber energi manusia (SDM). Pembangunan SDM yang menjadi prioritas utama membikin guru wajib menjadi agen penguatan bakat buah hati bangsa.

“Guru dituntut untuk meningkatkan mutu dan kompetensinya cocok pengajaran abad ke-21. Peran guru wajib lebih dari mendidik, juga mengolah belajar siswa,” katanya.

Presiden juga berkomitmen menyederhanakan pengerjaan sertifikasi guru dan juga administrasi yang selama ini dirasa berbelit.

“Ini masih kita urus supaya dapat berjalan pesat dan lebih simpel. Pokoknya pekan depan aku mau berjumpa dengan ketum PGRi dan guru untuk membahas situasi sulit ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Lazim Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan, situasi sulit guru yang senantiasa diperjuangkan oleh PGRI ialah supaya ada pemberesan kepada situasi sulit utama guru dalam mengerjakan tugas administrasi. Pasalnya, para guru masih mengeluhkan administrasi yang berbelit-belit, serta kompleksnya penyaluran tunjangan pekerjaan guru (TPG) dan penyelesaian guru honorer.

“Mengingat tak seluruh guru honorer berkesempatan meniru percobaan CPNS sebab kendala syarat umur, kami betul-betul menantikan PP P3K diterbitkan dan semoga menjadi kado Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tahun 2018. Kecuali itu, kami menyadari masih banyak rencana pengorbanan guru, bagus negeri, swasta, konsisten, dan tak konsisten, yang wajib secara tetap diperjuangkan PGRI,”ujarnya.

Kecuali itu, PGRI untuk menuntut kembalinya mata pembelajaran informatika sebagai substitusi mata pembelajaran TIK yang sempat terhapus. Keadaan mata pembelajaran bahasa asing, desentralisasi urusan kenaikan pangkat ke tempat, dan penyelesaian berbagai situasi sulit yang dinikmati guru, akan terus diperjuangkan PGRI supaya guru-guru bisa berdaulat dan bermartabat, serta konsentrasi mendidik.

Dalam era revolusi 4.0 ini, lanjutnya, metode pengajaran nasional dihadapkan pada tantangan yang betul-betul rumit, namun menarik. Oleh sebab itu, PGRI sebagai organisasi pekerjaan juga ditantang untuk kapabel menggerakkan guru, pengajar, dan daya kependidikan, untuk memberikan andil dalam penyelenggaraan pengajaran di sekolah. PGRI juga terpanggil melahirkan pemikiran transformatif dalam pengembangan kebijakan pemerintah, pengelolaan program pembangunan di sentra dan tempat, serta melahirkan bermacam-macam gagasan dan perbuatan inovatif cocok tantangan abad ke-21.

Berhubungan hal itu, ada tiga hal yang perlu mendapatkan perhatian. Pertama, temuan pelajaran dalam jaringan (daring) yang dirancang terbuka, saling berbagi, terhubung atau berjejaring satu sama lain. Dengan prinsip ini, tiap orang akan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Kedua, mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengerjakan profesi spesifik dalam menolong tugas-tugas keseharian manusia.

“Di bidang pengajaran, artificial intelligence menolong pelajaran secara individual, yang kapabel mengerjakan pencarian info dan menyajikannya dengan pesat, cermat, dan interaktif. Perkembangan teknologi merubah secara fundamental aktivitas belajar-mendidik. Ruang kelas mengalami evolusi ke arah pola pelajaran komputerisasi yang menjadikan pelajaran lebih kreatif, partisipatif, berbagai, dan menyeluruh,” ujarnya.

Ketiga, guru mempunyai peran penting dalam kontekstualisasi info serta memberi tuntunan peserta ajar dalam pembicaraan daring. Pelajaran multi-stimulus akan lebih menyenangkan dan menarik.

“Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, peran guru berubah dari semula menjadi pemberi pengetahuan menjadi mentor, fasilitator, motivator, inspirator, serta pengembang khayalan, kreativitas, poin-poin karakter, team work, dan empati sosial, sebab poin-poin itulah yang tak bisa diajar oleh mesin,” ujarnya.

 

Sumberhttps://www.swa-jkt.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *