Semarakkan Kembali Permainan Tradisional di Zaman Digital

IB school jakarta

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hilmar Farid menekankan pentingnya permainan tradisional untuk meningkatkan karakter dan kreativitas buah hati menghadapi era komputerisasi. Untuk itu ia mendukung supaya permainan-permainan tradisional dapat terus dilestarikan.

Hal itu dirinya sampaikan saat membuka Pameran Permainan Tradisional dan Gelar Dolanan Nusantara dengan tema Solidaritas dalam Keberagaman, yang digelar semenjak 17 hingga 23 Desember 2018, di Gedung A Kemendikbud.

Hilmar menegaskan, permainan tradisional yang adalah salah satu kebiasaan tempat sejatinya mengajari bermacam skor-skor dan pesan akhlak yang bagus bagi tumbuh kembang buah hati. Seperti melatih lahiriah dan motorik buah hati, skor kerja sama, memupuk kearifan lokal, sampai melatih tata krama buah hati saat ada di lingkungan masyarakat.

Baca Juga: cambridge curriculum

“Mengenai pameran ini seandainya boleh rekomendasi, libatkan sahabat-sahabat di pengajaran jadi buah hati-buah hati sekolah dapat diikutsertakan dalam kesibukan ini, permainan tradisional dapat diajari di sekolah, balai-balai,” terang Hilmar, Senin (17/12) lalu.

Kecuali dipamerkan, dirinya berkeinginan permaianan tradisional ini nantinya dapat menjelang ranah komputerisasi dengan semua kreativitas generasi muda dikala ini, dan diolah menjadi sebuah gim komputerisasi. Lebih dari itu, pemerintah juga akan mengusahakan dan memutuskan seandainya permainan tradisional ini dapat mendapatkan Dana Jatah Khusus (DAK) Kebudayaan.

Dengan demikian, Pameran Permainan Tradisional dan Gelar Dolanan Nusantara ialah sebuah upaya untuk mempersembahkan kekayaan kultur Indonesia. Hal ini dinyatakan oleh pemrakarsa pameran, sekalian pemilik Gudang Dolanan Indonesia, Endi Aras.

“Pameran ini adalah sistem kita untuk mempersembahkan permainan buah hati ke masyarakat luas, tak cuma buah hati tapi orang tua. Sebab, orang tua benar-benar memutuskan nasib buah hati, dan mengajari permainan tradisional terhadap buah hati-buah hati,” jelasnya.

Dalam gelaran kali itu, ada sekitar 200 permainan yang dipamerkan, dan terdiri dari permainan berbentuk lahiriah seperti congklak, ketapel, tali karet, bekel, dakon, gasin dan masih banyak lainnya. Padahal permainan nonfisik, merupakan berupa permainan yang memakai nyanyian, seperti domikado, cublak-cublak suweng, dan ular naga.

“Indonesia setidaknya mempunyai 2.500 permainan buah hati, namun yang kita pamerkan cuma 200. Masih banyak sekali permainan Indonesia yang patut dilestarikan, sebab seandainya tak tentu akan punah tergoda zaman,” jelasnya.

Demi menerima permainan hal yang demikian, Endi menyebutkan bahwa dirinya sudah keliling ke bermacam daerah di Indonesia untuk melestarikan permainan tradisional ini. Mulai dari mal, gereja, sampai pondok pesantren. Malahan, dia sudah berkunjung ke sebagian negara tetangga.

“Aku telah ke Brunei dan Jepang, responsnya cenderung lebih bagus di sana ketimbang di sini. Ya seperti itu, orang luar lebih beratensi ke kita, meski kita lebih cenderung beratensi ke Barat,” sebutnya.

Memang, keadaan ini ialah sebuah tantangan yang patut dilalui. Malahan, usaha Endi dalam membikin pameran rasanya bahkan belum cukup. Gaungnya terasa masih minim. Tampak dikala pembukaan pameran, tak seperti itu banyak pengunjung yang datang. Sedangkan, sasaran Endi membikin pameran ini di akhir Desember ialah sebab waktunya ideal dengan tamasya sekolah buah hati dan keluarga.

“Kini lagi tamasya sekolah, kami harapkan buah hati-buah hati bebas bermain di sini. Sebab segala permainan yang kita pamerkan dapat dimainkan,” harapnya.

 

Baca Juga: IB school jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *